Sabtu, 01 April 2017
Yash! Finally tomorrow is April. Welcome new month,new strength,new motivation. Masalahnya, 1 April itu hari sabtu hmmm. Hari sabtu or saturday make me feel so bored,tired etc. Can i skip saturday from my life? Ohh, but i'm so thankful bcs allah gimme one more chance to wake up. Why i hate saturday? Jawabannya karena 6 sks yang bikin mahasiswa tua krn berpikir keras *lol* dan tak lupa pula kuis di setiap awal atau akhir perkuliahan. Sometimes i think no problem ran if you can't do your class with good score,because a single sheet of paper can decide your future wkwk. But in the same time i'm so scared about my score. Sometimes i think i don't care, and then i think again that i do care. But it's too late to work hard in the end. Mengapa juga di akhir harus kerja keras sementara yang dijalani sebentar lagi berlalu wkwk. Jadi,terima saja apa yang kau dapat sesuai dengan yang kau usahakan. Lillahi ta'ala,insyaallah khair.
Kamis, 23 Maret 2017
Teman-teman mungkin ada yang beranggapan kalau tulisan yang selama ini aku posting menyindir pihak tertentu. Mungkin juga ada teman-teman yang berpikir kalau tulisanku ini untuk mencari perhatian. Whatever you say ya hehehe. Jadi gini,coba kalian cari tau tentang psikologi seseorang. Saya termasuk golongan introvert,syukur-syukur saya bisa mengungkapkan isi hati melewati tulisan. Kalo saya gak bisa ngungkapin isi hati lewat tulisan bisa-bisa saya kurus mikirin masalah sendirian. Blog ini media saya untuk curhat. Loh? curhat kok di blog? Biar semua orang tau ya? Kenapa gak curhat di diary? Pasti gitu kan tanggapan kalian? Balik lagi ke jiwa seseorang, melalui tulisan membuat saya lebih percaya diri. Buat apa saya punya diary? Kalau dengan menulis di blog memberi sejuta manfaat untuk saya. So,hanya diri kita sendirilah yang mengenal diri kita.
23-3-2017 (20:07)
Akan tiba hari dimana kamu akan kecewa tentang suatu hal. Suatu hal yang telah kamu upayakan,suatu hal yang benar-benar kamu dambakan,suatu hal yang membuat kamu terlalu bersemangat hingga lupa diri,lupa waktu dan melupakan semuanya. Suatu hal yang menjadi angan-angan hingga jadi pandangan dan memberi motivasi untuk melangkah. Suatu hal yang selama ini menjadi fokus utama,tujuan utama,sasaran yang benar-benar tepat. Ibaratkan menarik mata panah yang frekuensi harapan mengenai targetnya mencapai 90% namun 10% yang tak pernah menjadi fokus utama ini menghancurkan dominasi perkiraan. Oke, aku telah banyak melewati proses pendewasaan yang membuatku up and down. Kekecewaan yang tidak masuk akal ini memang masalah waktu, selamat ran kamu telah melewati fase terakhir proses pendewasaan kamu yang luarrrr biasa. No problem ran, Allah knows you were bigger than your problem. Alam yang kau jalani ini fana, susah senang sudah diatur. So,do your best :)
Evaluasi diri dari masalah ini :
1.Sabar.
2.Istiqomah.
3.Bersyukur.
Selasa, 21 Februari 2017
Random
Aku menulis ini bersama rasa sakit yang tidak benar-benar kamu pahami. Aku menatap laptopku dengan wajah masam, berujung pada perasaan yang tidak berhasil kau tebak. Mengertikah kamu, perjuanganku juga butuh kepedulianmu?
Entah karena kau terlalu bodoh untuk menilai atau terlalu egois untuk memaklumi. Aku mencoba sabar, mencoba sabar menghadapimu. Aku berusaha bertahan, berusaha mempertahankan yang harusnya aku lepaskan. Aku sudah menunggu sangat lama, mengharap pengertianmu menderas ke arahku. Tapi, hal itu tak kunjung kutemui. Kamu masih begitu, dengan omonganmu, dengan tingkahmu yang tak berubah.
Apakah kesabaran yang kulakukan benar-benar tak terlihat di matamu? Kau mengetahui segalanya kan? Mengapa hanya diam dan bisumu yang selalu kudapati di hari-hari selepas kebersamaan kita?
Aku ketakutan dan kedinginan sendirian. Kamu tak pernah ada di sini saat aku butuhkan. Aku juga tak paham lagi. Pantaskah sosokmu selalu kupertahankan? Jika yang kudapatkan hanya pengabaian, ketidakpedulian dan kebohongan; bagian manakah yang bisa memberi kebahagiaan?
Kamu jauh di sana, tak banyak yang kau lakukan selain mengirim pesan singkat atau menyapaku dari ujung telepon. Tak banyak yang bisa kita lakukan selain saling merindukan. Rasa perih itu semakin membesar, membentuk luka yang mungkin sulit sembuh. Semakin sering aku tak melihatmu, ketakutanku di sini semakin menebal.
Perlukah aku membandingkan kamu dengan pria-pria lain yang lebih pandai meluangkan waktunya untukku, daripada sedikit waktu yang kauluangkan untukku? Kamu tak pernah peduli pada sakitku, perihku, dan sedihku. Kau biarkan aku menyelesaikan segalanya sendirian. Inikah wujud kepedulian yang selalu kau ributkan denganku? Mana kepedulianmu? Mana kehadiranmu? Kosong!
Jangan bilang rindu, jika kau tak bisa ke sini untuk buktikan perasaanmu.
Sabtu, 18 Februari 2017
Ruang Untuk Kita
Selamat malam Tuan yang entah mengapa terasa semakin jauh. Aku datang baik-baik untuk bertanya mengenai hal-hal manis yang kita jalani selama ini. Sejak dua puluh enam agustus tahun dua ribu tiga belas, kamu menyelip dalam ruang hatiku, menjadi sosok baru yang nampaknya menarik jika kunikmati dari berbagai sisi. Aku hanya ingin kamu tahu, kamu sudah jadi seseorang yang kuhargai keberadaannya, kutunggu pesan singkatnya, dan kurindukan suara beratnya. Kamu sudah jadi teman malamku, sapaan renyah pagiku, dan terik matahari siang yang membakar semangatku.
Kita sudah saling tahu sejak satu tahun lalu. Saat kautahu aku lebih memilih UI dan menanggalkan pengumuman diterima di UGM melalui jalur SNMPTN. Penasaran, itulah caramu menjelaskan awal perkenalan kita. Saat pesan singkatmu menggetarkan handphone-ku untuk pertama kalinya, saat tulisan besar kecil dengan tanda baca penuh itu memenuhi kotak masuk poselku; demi bumi dan langit, aku tak ingin membawa hubungan itu ke jenjang lebih serius. Cukup jadi teman.
Lalu, setahun kemudian kamu muncul dengan gaya baru. Bahasa yang tertata rapi yang membuatku kagum setengah mati. Jaket kuningku bersanding dengan jaket abu-abu kehijauan milikmu. Percakapan kita malam itu diawali dengan membandingkan UI dan UGM, tidak ada ketegangan, hanya rasa canggung yang kurasakan. Aku tak pernah berbicara senyaman ini dengan orang asing yang wajahnya belum pernah kutatap secara langsung. Pembicaraan panas itu merambat ke pembicaraan hangat, saat kauberbicara tentang puisi Chairil Anwar, cerpen Seno Gumira Ajidarma, serta kekagumanmu pada guru besar FIB UI; Sapardi Djoko Damono.
Hampir setiap malam, kamu menjadi bagian dalam hari-hariku, jadi tawa yang membawa damai sebelum tidur malamku. Tak hanya itu, kaudan aku rela terlelap hingga subuh, hanya karena tak ingin saling melepaskan. Terlalu terburu-burukah jika aku mencoba menyebut ini cinta? Jika terlalu tergesa-gesa, lalu apa namanya perasaan tak ingin melepaskan meskipun kutahu kamu tak mungkin berada dalam genggaman?
Dan, kedekatan kita, Tuan, sepertinya memang bukan lagi sebatas teman. Ketika kauberani mengganti "Dwit", menjadi "Ntaa." Singkatan dari cinta, katamu; yang berhasil membuatku muntah pelangi berak surgawi. Oke, jelek, ya, diksi yang kugunakan? Maaf, ya, siapalah aku ini dibanding sastrawan serba misterius seperti kamu?
Awalnya, semua ini baik-baik saja. Sampai pada akhirnya aku tak tahan dengan kelancanganmu menyebut semua penghuni Gembira Loka dan Safari, saat kita bertengkar, soal pesan singkat yang kubalas lama, telepon yang tidak kujawab, dan isi mention bersama seorang pria yang tidak kaukenal. Aku membuka suara, kita sudah bicarakan hal ini berkali-kali. Aku sempat tak ingin membawa semua ke arah yang lebih serius karena kita berbeda, tolong garis bawahi itu, dan kauterima pendapat itu dengan lapang dada.
Awalnya, Tuan, kita membuat kesepakatan, namun nampaknya cinta itu seperti kekuatan brengsek yang membuat aku dan kamu juga ingin melawan dalam ketidakberdayaan kita. Oke, kita sepakat tak pernah membawa semua ini ke dalam hubungan serius, tapi aku dan kamu ternyata mematahkan komitmen itu. Kita berontak, marah sama keadaan, marah dengan jarak, marah sama cinta, marah dengan kesepakatan awal. Aku dan kamu terlalu gengsi untuk membawa hubungan ini ke arah yang lebih serius. Selain terlalu gengsi, juga merasa belum siap pada jarak, pada perbedaan kita, pada masalah rindu, pada kurang ajarnya sinyal ponsel, pada ratusan kilometer jarak antara Bogor dan Jogjakarta. Kita marah sama siapapun, sama apapun yang membuat aku dan kamu selalu emosi setiap mendengar kalimat "Sebenarnya status kita ini apa? Siapa kita? Apa yang kita rasakan?"
Setelah lelah marah pada keadaan, kamu menyuruhku untuk mencari penggantimu. Aku tertawa, bergelak kencang sekali. Lalu, setelah tawaku diam, kamu berikan alasan. Kamu ingin lihat aku bahagia dengan yang lain, agar kamu punya alasan untuk melepaskanku dan tidak lagi mengharapkanku. Aku tertawa semakin geli, tapi mataku basah karena tertawa terlalu kencang. Kusambut saranmu dengan menyuruhmu juga mencari yang lain, agar aku bisa melepaskanmu dan melihatmu bahagia; meskipun kebahagiaanmu tidak lagi membutuhkanku.
Sekarang, rasanya keinginan kita sudah terwujud. Keinginan dua orang bodoh yang terlalu gengsi menyatakan perasaan, terlalu takut meminta kejelasan, dan terlalu takut melawan keadaan. Kamu entah dengan siapa sementara aku dengan dia. Hahaha! Terluka.
Ini bodoh, sungguh, maksudku apa susahnya bilang kalau aku dan kamu inginkan penyatuan? Punya satu tujuan? Mau saling memperjuangkan? Iya, berbicara cinta dan sayang memang tak mudah, tapi bukankah lebih menyakitkan jika kita hanya bisa saling gengsi, saling diam, tapi juga cemburu? Bukankah lebih menyedihkan jika aku dan kamu hanya bisa tertawa sebenarnya kita sangat tersiksa?
Bisakah kaubayangkan rasanya jadi dua orang yang saling mencintai tapi mereka termakan gengsi sendiri? Bisakah kaurasakan sakitnya dua orang yang saling merindukan, tapi hati mereka tak saling menyatukan? Tuan, bisakah kauresapi air mata dua orang yang saling berjauhan hanya karena mereka takut pada arus cinta yang semakin dijauhi justru semakin deras?
Hatimu sudah jadi milikku, hatiku sudah jadi milikmu. Namun, mengapa aku dan kamu tak kunjung menciptakan ruang untuk kita? Ruang tempat kita saling memahami juga mencintai, tanpa harus memerhatikan gengsi yang mematikan semua urat-urat hati.
untuk yang selalu percaya
saya tak punya cinta
saya tak pernah punya rindu
saya tak punya perasaan
Padahal, diam-diam;
dia sudah jadi segala– dalam kepala.
Langganan:
Postingan (Atom)



